Kamis, 10 Maret 2016

Review cerpen “Teras Rumah Ayah”

Review Cerpen dan Puisi

/
0 Comments
Review cerpen “Teras Rumah Ayah”



Cerpen “Teras Rumah Ayah” merupakan cerpen yang ditulis untuk tugas akhir di semester 3. Cerpen ini bercerita tentang kehidupan tokoh yang bernama Adam beserta orang-orang yang terlibat di dalam kehidupannya, dan juga tokoh Ayah sebagai tokoh pembantu di cerita ini. Di kehidupannya  Adam berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang tidak terlalu ia sukai, terutama sifat yang munafik, membosankan, dan tidak konsisten. Di tengah cerita Adam akan berkunjung ke rumah Ayah nya untuk sedikit menceritakan tentang kehidupan yang alami di masa lalu, namun sebuah kenyataan terungkap di dalam perbincangan keduanya, kenyataan yang tidak disangka dan tidak pernah diungkapkan sebelumnya.

Ketika saya baca untuk kesekian kalinya, cerpen ini memiliki beberapa kekurangan, dari ceritanya yang terkesan meloncat-loncat dan kurangnya deskripsi kehidupan beberapa tokoh. Untuk kelebihan, saya tidak berwenang menilainya, cukup pembacalah yang berhak.


Review puisi “Kopi Malam”


            Dari judulnya saja mungkin orang-orang bergumam ‘kenapa tidak kopi dangdut saja?’ jujur saya pun begitu. Entah teori apa yang mendasari pemilihan judul puisi itu, saya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Pemilihan kata yang sangat ‘kering’ dan tidak berisi tergambarkan di judul tersebut, sesudah judul kita menuju ke isi setiap bait. Dari bait pertama hingga akhir, saya merasa banyak kalimat yang mubazir terkesan kepanjangan, penulisan diksi yang berlebihan memaksa juga terdapat di bait puisi ini. Ketika saya membaca puisi ini (lagi) saya merasa orang yang paling berlebihan dalam menggambarkan sebuah ide, mungkin bagus untuk ide yang kualitas nya berlebihan, namun bagaimana dengan kekurangan yang berlebihan (memaksa)?  Tentu sangat tidak berkualitas. Namun ini menjadi sebuah pelajaran bagi saya dalam menulis puisi, toh tidak ada karya pertama yang bagus, tapi bukan berarti karya selanjutnya akan bagus. Saya akan meningkatkannya lagi.


You may also like

Tidak ada komentar:

Ridho Pahlawan. Diberdayakan oleh Blogger.