Rabu, 09 Maret 2016

Teras Rumah Ayah Oleh M Ridho Pahlawan

Teras Rumah Ayah

/
0 Comments
Teras Rumah Ayah
Oleh M Ridho Pahlawan


    Manusia itu membosankan. Manusia itu munafik. Manusia itu penuh janji busuk. Manusia itu Maha kadang-kadang. MANUSIA! Sambil menunggu rapat selesai aku selalu menggumamkan kalimat-kalimat itu, entah kenapa setiap kali memikirkannya aku merasa emosi ku tiba-tiba meledak tetapi hanya di dalam hati, bukan seperti orang yang memergoki pacarnya selingkuh dan menghujamkan pisau dapur ke perut selingkuhannya. Bukan. Aku lebih memilih diam dan menyembunyikannya, cukup aku yang tau dan tidak merepotkan orang lain.
            Sudah satu jam aku di sini memandangi manusia-manusia yang licik dan penuh kemunafikan, ucapnya di mulut sih setuju, namun di hatinya dendam dan marah berkecamuk. Ya, beginilah pekerjaan ku, melakukan rutinitas rapat seminggu sekali padahal yang dibicarakan tidak terlalu penting dan membosankan, namun sebagai pegawai bank baru aku harus menjalaninya. Menjengkelkan, bukan? Jam dinding yang berlogo bank mulai menunjukkan jam lima sore dan aku lega rapat ini berakhir. Aku bisa pulang dan meminum bir kaleng di kulkas ataupun menelepon pacarku untuk sekedar jalan-jalan. Ya, suatu hal yang menyenangkan dan impian semua orang, tapi rutinitas rapat ini akan terulang lagi minggu depan dan seterusnya. Sial.
            Usai keluar dari ruang rapat aku langsung mengambil tas di meja kerja ku dan menekan tombol lift untuk turun menuju parkiran mobil. Bukan seperti pegawai lain yang sempat-sempatnya merayu pegawai perempuan untuk makan malam atau ajakan apalah itu, yang jelas membuat si perayu menang besar. Setiba di parkiran yang bercahayakan seadanya, aku dapat dengan mudah menemukan mobilku yang sengaja aku letakkan di dekat pintu keluar, sekitar enam langkah pun aku bisa menemukannya. Keadaan di parkiran sungguh sepi dan suram hanya lampu-lampu tua yang bersusah payah untuk meneranginya. Apakah ini yang orang lihat ketika memandangku? Sepi, suram dan aneh yang membuat mereka ingin bergegas memalingkan wajah mereka dari hadapan ku. Aku duduk termenung di kursi belakang mobil dan merasa ada yang aneh, seperti sebuah pikiran yang mencoba untuk mengancam jika tidak ku lakukan. Pikiran ini meminta ku untuk duduk di kursi depan untuk menyetir bukan duduk termenung di kursi belakang, aku baru ingat aku tidak mempunyai sopir pribadi. Ceroboh.

            Di perjalanan menuju pulang ke rumah aku seringkali terjebak macet, aku memang tidak terlalu pandai dalam mengakali setiap rute jalan yang aku lalui, namun aku mempunyai pemandangan tersendiri jika kau terjebak macet, dari dalam mobil aku bisa menyaksikan anak-anak yang memegang gitar sambil meminta imbalan, orang-orang tua yang jualan jajanan hingga menyaksikan sepasang kekasih bertengkar. Kuno. Kata orang-orang sebuah hubungan tidak afdol bila tidak ada bumbu pertengkaran dan perdebatan. Sebuah pernyataan yang sangat manusia. Busuk. Mungkin orang yang membuat pernyataan tersebut adalah seorang anak SD yang baru saja selesai mabuk lem. Pandanganku terhadap cinta memang tidak terlalu menyenangkan, kau beranggapan cinta itu rekaan dari nafsu belaka dan hanya buang-buang waktu. Padahal aku sendiri sudah memiliki kekasih yang lumayan cantik. Ya begitulah manusia, apa yang dibenci itu yang dikerjakan. Ditengah kemacetan handphone ku berdering, terlihat nama kekasih ku bertuliskan di layarnya, padahal aku sedang malas meladeninya namun lumayanlah untuk menghabiskan waktu dikemacetan.
           
“Kamu lagi di mana?”
           
“Ini di jalan mau pulang. Lagi macet”
           
“Kenapa SMS ku tidak dibalas?”

“Kan tidak boleh mengemudi sambil main handphone”

“Hm..alasan yang cukup bagus untuk menutupi kalo kamu malas”

“Tapi benarkan?”

“Entahlah”

Dan tiba-tiba dia mengakhiri panggilannya.

Aku sudah biasa menghadapi kejadian seperti ini, sudah makanan sehari-hari ku dan aku sudah tahu apa yang terjadi berikutnya, dia datang ke rumah ku dan meinta penjelasan. Aku jelaskan. Selesai. Aku bersyukur memiliki kekasih yang bersifat aneh. Tapi bukannya semua perempuan itu aneh ya?
Seiring berjalannya waktu dan bunyi klakson mobil, akhirnya aku bisa keluar dari kemacetan dan segera memacu gas dengan cepat. Setiba di rumah aku langsung merebahkan diri, untuk mengganti pakaian pun terasa malas apalagi untuk mandi, biar lah pikirku sambil memejamkan mata dan tidur. Jam sudah menunjukkan 8 malam, aku terbangun dan disambut dengan gelapnya seisi ruangan dan teras rumah, suara jangkrik mulai bersahutan, dengan mata yang masih segaris aku menyalakan lampu disetiap ruangan, ruang tamu, dapur,kamar dan teras. Sesudah semuanya selesai aku menjalankan niat ku yang tertunda saat baru tiba tadi.mandi.
Komplek tempatku tinggal memang jauh dari keramaian, bisa dibilang aku memang menyukai suasana yang seperti ini, jauh dari keributan. Aku lebih memilih diributkan oleh suara jangkrik daripada suara manusia dan semua alat transportasinya. Begitupula dengan orang-orang komplek ini sepertinya mereka mempunyai selera yang sama denganku, jarang sekali aku menjumpai mereka berangkat ataupun pulang, mungkin hanya satpam komplek ini yang biasanya aku sapa untuk sekedar basa-basi saja, aku ingat suatu hari saat menjumpai tetanggaku yang baru pulang, aku menyapanya namun ia tidak merespon dengan baik, hanya memasang senyum yang sangat terpaksa. Di situ lah awal aku beranggapan kalau komplek ini diperuntukkan untuk orang-orang yang sudah muak dengan dunia kerja dan rumahlah tempat mereka keluar dari dunia itu. Ya, miriplah dengan ku.
Selesai mandi aku membuat secangkir teh panas untuk menghangatkan badan dan menjernihkan pikiran, secangkir teh mengingatkanku akan sosok ibu yang biasanya membuatkanku, sosok yang sekarang sudah berada di sisi-Nya. Aku masih ingat saat pertama kali ibu mengajarkanku membuat teh yang enak, dan sampai sekarang aku masih bingung bagian mana yang aku lewatkan, kenapa teh buatan ibu selalu nikmat sementara teh buatanku yang setiap cara pengolahannya persis yang ibu ajarkan sangat berbeda rasanya. Teh memang mempunyai unsur magis, tergantung yang membuatnya begitupula kopi, saudara jauhnya. Membicarakan kopi sama saja membicarakan ayah ku, ia lebih menyukai kopi yang tidak terlalu hitam dan sedikit gula, aku tidak habis pikir bagaimana membuatkan ayah sebuah kopi, karena menurutnya kopi buatanku lebih parah dari kopi buatan pemuda yang sedang mengigau. Hanya kopi buatan ibu yang bisa membuat ayah merasa hidup kembali, ia berpendapat kopi ibu lebih nikmat dari kopi ternikmat di dunia. Ya sama seperti pendapat ku akan teh buatan ibu.
Ayah. Sudah tiga bulan aku belum menemuinya, paling tidak hanya lewat telepon itupun disaat aku sedang tidak sibuk, tapi biasanya ia yang menelpon duluan tanpa kenal waktu dan tempat. Menyenangkan mempunyai ayah yang sangat perhatian terhadap anaknya, padahal anaknya ini sudah menginjak usia kepala dua, sudah cukup bisa membedakan mana yang benar dan salah. Malam ini entah kenapa aku ingin menelepon ayah, ini jarang terjadi dan bahkan aku ingin menemuinya untuk sekedar berbagi kisah muda dan bila ia berkenan ia mau menceritakan juga masa muda nya dulu. Segera aku ambil handphone yang tergeletak terbalik di atas sofa dan menggeser setiap nama kontak, hingga ku temui nama ayah dan mengusap tombol ikon gagang telepon yang berwarna hijau.

            “Hallo?”
           
            “Iya, hallo?”

            “Ayah?”

            “Iya? Tunggu ini ayah lagi mimpi atau apa?”

            “Tidak yah. Ini aku, Adam anakmu”
           
“Tumben kamu menelpon?”

            “Entahlah tiba-tiba spontan,  oiya Adam besok mau ke rumah ayah, ayah tidak sibukkan?”

            “Oh silahkan...silahkan ayah tidak sibuk, apakah perlu ayah adakan sambutan?”

            “Hahaha ayah terlalu berlebihan. Baiklah besok sekitar jam 11 adam berangkat”

            “Iya, Ayah tunggu. Tapi ayah titip sesuatu. Biasa lah..”

            “Oh itu, iya nanti akan Adam belikan, sudah dulu ya yah ”

“Iya, anak ku”

Sebuah percakapan yang sangat singkat dan canggung. Hubunganku dengan ayah memang tidak begitu dekat, karena ada satu dan lain hal yang bisa saja membuatku tidak tidur semalaman. Dan sekarang aku lebih memilih untuk tidak memikirkannya dan bersiap untuk bangun pagi besok.
Hawa dingin menusuk kaki ku yang lepas dari lindungan selimut, terdengar ayam yang sedang berkokok seperti membangunkan ku agar tidak terlambat, aku membangunkan diri dan duduk termenung di pinggir kasur sambil menerawang sekitar kamar dengan mata yang belum terbuka sempurna, ku lihat jam weker masih menunjukkan jam enam. Bangun pagi pada saat hari libur sangat jarang ku lakukan kecuali ada suatu kegiatan atau janji yang ku buat sebelumnya itupun biasanya telat bangun. Namun kali ini mau tidak mau aku harus segera bangun untuk bersiap-siap karena bisa saja aku terjebak macet dalam perjalanan ke rumah ayah yang jaraknya lumayan jauh.
***

Udara masih sejuk dan suara bising bunyi alat transportasi belum terdengar itulah sedikit gambaran ketika aku di perjalanan, jalan tol yang biasanya ramai oleh mobil dan sepeda motor yang saling berpapasan pagi ini tidak begitu mencolok, sepertinya ini adalah hari yang tepat untuk ku berlibur. Untuk meghilangkan rasa suntuk di perjalanan, aku menyalakan CD Player di mobilku dan mencolokkan flashdisk yang sengaja ku isi beberapa lagu lawas dan baru sebelum berangkat dari rumah tadi. Ku pilih dan play lagu dari Maddy Moore yang berjudul only hope, yang entah kenapa aku begitu merindukan lagu ini. Alunan instrumen dan suara lembut dari maddy moore menemani perjalananku, bagaikan sebuah soundtrack kehidupanku yang memang hanya diisi dengan berbagai harapan persis seperti judulnya. Harapanku di  kehidupan ini tidak terlalu bertele – tele, aku hanya berharap apa yang ku kerjakan dan inginkan tercapai, itu saja tidak kurang dan tidak lebih.
Matahari mulai meninggi, sinarnya menembus kaca depan mobilku dan mengingatkan ku untuk membeli pesanan ayahku yang memang bisa ditemukan di daerah sini. Aku mulai mengamati pinggir jalan sebeleh kiri yang berjejer warung rujak, iya, rujak lah pesanan ayah. Akhirnya aku menemukan warung yang lumayan besar dan untuk memarkir mobil lebih leluasa. Aku keluar dari mobil dan menghampiri ibu – ibu pemilik warung yang sedang sibuk melayani pelanggannya untuk memesan satu rujak pedas. Sambil menunggu pesanan, kebetulan di sebelah warung ini ada rumah makan yang menyediakan menu yang cukup murah dan kebetulan juga perutku merasa kosong setelah berjam-jam di perjalanan. Aku putuskan untuk makan siang sebentar.
Perjalanan ku lanjutkan dengan perut yang kenyang dan rujak pedas di jok mobil sebelahku yang aromanya mengisi seluruh mobilku.tiba – tiba handphone ku berdering, aku mempunyai firasat ini telepon dari ayah dan firasatku tepat.

“Sudah di mana kamu?”

“Ini bentar lagi sampai, Yah”

“Cepat ya. Ayah sudah tidak sabar mau makan rujak. Kamu beli kan?”

“Iya sudah, Yah”

“Baguslah. Baiklah Ayah tunggu di teras rumah”

“Iya,Yah”

Tak terasa aku sudah berada di sebuah jalan yang besar dan sepi, tidak heran mengapa ayah memintaku untuk membelikannya rujak. Jalannya lumayan bersih dan tertata rapi, sepertinya setiap pagi sekaliada petugas kebersihan yang bertugas disekitar sini, namun tetap saja membuat nyali ciut melewati jalan ini ketika malam, karena hanya satu buah tiang lampu yang hampir redup untuk menerangi jalan yang besar ini. Aku ingat saat masih kecil ketika ayah mengajakku untuk jalan – jalan malam melewati jalan ini, dulu tidak ada satupun cahaya di sini, dan kami hanya menggunakan senter saja. Sejak saat itu aku mulai takut dengan kegelapan, sampai saat ini.
Setelah melewati jalan besar tadi aku membelokkan mobil ku ke kiri jalan, menyusuri jalan kecil namun bisa dilewati oleh satu mobil, dari kejauhan terlihat rumah besar berwarna putih pucat dan kebun yang hijau terawat di depan rumah. Sepertinya tidak ada perubahan besar yang dilakukan ayah pada rumah itu, hanya menambahkan taman kecil-kecilan yang tampak asri. Sesampai di depan pagar rumah itu, aku disambut oleh sosok pria yang tidak terlalu tua bertubuh besar dan memegang tang, pria ini membukakan ku pagar dan dengan senyum yang terpaksa. Memasuki halaman rumah, aku parkirkan mobilku persis di depan garasi dan ayah sudah duduk di teras rumah sambil mengelap stik golf nya lalu berhenti.

“Akhirnya yang ayah tunggu datang juga. Sini mana rujaknya”

Aku berikan rujak yang dibungkus oleh kantong plastik hitam dan duduk di kursi berhadapan dengan nya
           
“Jadi sekarang ayah hobi main golf?”

“Iya, daripada tidak ada kerjaan di  hari tua ini dan anak nya yang sibuk terus”

“Haha mau bagaimana lagi, Yah. Banyak yang harus dikerjakan akhir-akhir ini”

“Dan kenapa kamu mau datang kemari?”

“Kenapa ayah menanyakan hal seperti itu? Bukankah wajar saja?”

“Sungguh tidak wajar. Pasti kamu ada mau nya, ya kan?”

“Sama sekali tidak ada. Tapi karena ayah menyinggung kalo saya ada mau nya, apaboleh buat, akan saya ada kan”

“Jelaskan apa mau mu”
Ia mulai membuka bungkusan plastik rujak, dan melahap satu persatu buah yang dicocol dengan sambal pedas. Aku masih mencari topik yang ingin aku tanyakan, jujur aku datang ke sini bukan ada mau nya, aku hanya ingin bertemu dengan nya, itu saja. Seperti hubungan ayah dan anak pada umumnya. Aku ingat ada suatu pembahasan yang kemaren malam tidak ingin aku ceritakan, mungkin ini saatnya untuk menyinggungnya.
“Jadi.....”

“jadi apa?”

“Jadi di mana ibu sekarang?”

“Apa-apaan kamu ini? Ibu kamu sudah lama meninggal ketika kamu lagi kecil, kamu lupa?”

“Itu menurut cerita ayah, sekarang tolong jawab dengan jujur di mana ibu?”

“Sudah tiada”

“Ayah selalu berkata seperti itu, tapi nyata nya selama ini ayah tidak pernah menunjukkan ku di mana ia dimakamkan”

“Itu tidak penting”

“Sangat penting!”

“Baiklah bila kamu memaksa”

Ia meminum teh hangat dari gelas bergagang besar. Kumis nya yang belum nampak putih satu helai pun tertutup oleh gelas teh tadi. Aku memperhatikannya dengan serius namun ia seperti tidak ada beban untuk memulai cerita.

“Ibu kamu sudah tiada sejak kamu kecil....”

“Haruskah itu yang aku dengar sepanjang hari di sini?”

“Biasakan untuk tidak menyela pembicaraan, anak muda. Jadi jika kamu ingin mengetahui di mana ibu kamu dimakamkan, maka kamu sudah di atasnya”
“Aku tidak paham”

“Masih dangkal rupanya. Kamu tepat duduk di makam ibu mu”

“Maksud ayah? Di teras ini?”

“Ya begitulah”

“Hahaha selera humor ayah sama sekali tidak lucu”

“Tapi kamu tetap tertawa kan?”

“Sekarang jangan bercanda, Yah”
Ia masuk ke dalam rumah dan mengambil linggis tua berkarat yang bertepatan di belakang pintu depan. Aku masih tidak paham apa yang akan dilakukannya.

“Gunakan ini. Jauhkan kursi itu dan buka lantai keramik itu dengan linggis ini”

Aku menurut apa yang diperintahkannya karena perasaan ku masih bercampur rasa penasaran yang berkobar. Aku singkirkan kursi yang ku duduki tadi dan dengan kebingungan aku menyongkel sisi keramik yang entah kenapa sudah mempunyai celah untuk dibuka. Hingga saat satu keramik terbuka, aku melihat .....

“Hahaha lelucon penyambutan yang sangat rapi, ayah. Aku sudah tidak kekanak-kanakan lagi dengan lelucon ini.”

“Justru ini adalah cara untuk membuatmu tidak kekanak-kanakan lagi. Itu ibu mu”
Dari keramik yang aku buka tadi terlihat sebuah kepala manusia berkulit  pucat dan berplastik. Apa ini ibu? Tidak mungkin! Apakah ini perbuatan ayah? Setega inikah selama ini? Antara percaya atau tidak aku memandangi kepala itu.

“Dan sekarang tolong tutup kembali dengan keramik tadi. Akan ayah ceritakan lebih lanjut”
Entah iblis apa yang merasuki ku, secara reflek aku menerkam ayah dan mengenggam kerah baju nya.
“Apa yang ayah lakukan? Kenapa? Apa maksud ayah?”

“IBU MU TELAH MENGHALANG-HALANGI KEINGINAN AYAH !”

“Menghalangi keinginan?”

“YA, KEINGINAN. AYAH TIDAK BISA MELANJUTKANNYA. SEKARANG KAMU BOLEH PULANG!”
Aku masih menggenggam kerah bajunya. Aku bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Aku seperti kehilangan kontrol. Ku lepaskan tangan kanan ku dan ku kepalkan bersiap untuk menamparnya. Lalu tiba-tiba saja di belakang ku ada seseorang yang berteriak dan memukul bagian kepala ku dengan benda tumpul. Pandangan ku menghitam.

***
Aku menemukan diriku di dalam ruangan yang agak gelap dan aku terduduk di kursi kayu yang tua. Kepala ku masih agak sakit karena hantaman yang kuterima tadi, aku tidak tahu siapa yang memukul tadi, tapi yang ku yakini orang ini adalah seorang lelaki. Keadaan di ruang agak gelap itu terlalu berdebu dan bersarang laba-laba, hanya sedikit sinar matahari yang masuk dari ventilasi di atas jendela. Aku tidak mengenali ruangan ini. Saat masih berkutat menahan sakit dan kebingungan terdengar suara langkah kaki yang berat menuju ke ruangan yang ku tempati ini.
“Nah kan apa ku bilang tadi sudah kuperingatkan kau untuk menikamnya dengan sesuatu yang tajam!”
Dengan kepala yang berat aku berusaha mengangkat kepala ku ke arah depan. Hingga terlihat Ayah berdiri di hadapanku dan seorang lelaki yang baru ku temui. Lelaki yang membukakan ku pagar tadi!
“Apa yang ayah lakukan?”

“Oh tidak apa-apa, hanya ingin membuatmu untuk tidak banyak bicara. Itu saja”

“Kamu jangan kasar gitu ama dia deh”
Lelaki yang bersama ayah itu berbicara! Namun mendengar logat bicaranya yang mendayu aku mulai curiga kalo orang ini adalah gay.
“Iya maafkan aku sayang. Untuk kali ini saja dan aku janji tidak melakukannya lagi”

“Baiklah kalau begitu”

Aku terkejut. Mereka berpelukan dan saling mencium leher satu sama lain.

“AYAH ! APA YANG AYAH LAKUKAN?!”
“Aduh ayah lupa kalau ini istri dan suami ayah atau kamu bisa memanggilanya dengan sebutan ibu”

“AYAH SUDAH GILA?!”

“oh tidak. Normal-normal saja”

Tiba lelaki itu berbisik ke telinga ayah dan dengan senyum ayah menganggukkan kepalanya. Apapun yang terjadi setelah ini, aku mempunyai firasat ini akan menjijikan. Tiba – tiba lelaki itu menghampiriku dan membuka baju ku. Sekuat tenaga aku melawannya namun semua itu sia – sia .
“Aku buka ya...”

“BAJ*NGAN KAU!! APA YANG KAU LAKUKAN!”

“sudah nikmati saja”

Aku melihat ayah hanya berdiri menyaksikan apa yang dilakukan lelaki ini. Tatapan matanya kosong. Tidak seperti biasanya. Lalu tiba – tiba dia berbicara.

“Jadi lelaki ini adalah kekasih ayah. Ayah pernah bersamanya di rumah ini namun ibu kamu memergoki kamu dan dia langsung mengucapkan sumpah serapah sekaligus meninggalkan ayah dan ingin membawa kamu pergi bersamanya. Ayah takut bila mengetahui siapa ayah sebenarnya dan bila ibu kamu menceritakan semuanya, ayah takut kamu tidak mengakui ayah.”

“JADI APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP IBU?!!”

Ia mengeluarkan sebuah revolver perak dari dalam kantong celana kainnya.

“Ya ayah lakukan ini,   DOR !! tepat di kepala ibu kamu”

“KAU SAKIT JIWA!!”
Aku tidak percaya dengan cerita tadi. Ia bukan ayahku, ia manusia iblis! Jadi inilah mengapa aku tidak terlalu menyukai manusia yang berjenis seperti ayah ini. Lelaki yang dari tadi sudah tidak sabar untuk menggerayangi tubuhku dengan segera menjalankan nafsu bejatnya. Dari balik punggung lelaki itu aku menatap ayah dengan tatapan benci dan BENCI! Aku memejamkan mata dan hanya bisa pasrah.

DORR!!

Sebuah suara yang sangat keras mengejutkanku. Dan dada ku mengalir darah segar bercucuran, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Namun itu bukan darahku, melainkan darah dari lelaki yang menggerayangi tubuhku tadi. Dengan segera aku menyingkirkan badan lelaki itu dari atas badanku dan terlihat dengan jelas ayah lah yang  baru saja menembakkan revolver nya ke lelaki itu dengan tangan kiri. Ia menyelamatkan ku.

“Kau?!”

“Maafkan ayah, ayah telah berbuat bejat seperti ini terhadap ibu dan kamu. Maafkan ayah”

Ia mengangkat pistolnya ke pelipis dahi bagian kiri dan tanpa ragu ia menarik pelatuknya. DORR ! peluru revolver menembus pelipisnya hingga membuat lantai berlimba darah. Aku hanya bisa menyaksikannya dengan tubuh yang lemah dan gemetar dan aliran darah yang ada dilantai menggenangi tempat di mana aku terduduk. Manusia itu membosankan. Manusia itu munafik. Manusia itu penuh janji busuk. Manusia itu Maha kadang-kadang. MANUSIA! 


You may also like

Tidak ada komentar:

Ridho Pahlawan. Diberdayakan oleh Blogger.