Kamis, 17 Maret 2016

Dalam membuat sebuah tulisan yang berjenis jurnal, kita tak bisa lepas dari empat poin ini :

Narasi untuk Sebuah Jurnal

/
0 Comments
Dalam membuat sebuah tulisan yang berjenis jurnal, kita tak bisa lepas dari empat poin ini :

1.      Planning
2.      Drafting
3.      Revising
4.      Working within the process
Ke empat hal di atas sangatlah krusial, di mana bila salah satu poin nya saja tidak dikerjakan maka hasil yang diperoleh kurang optimal. Di sini saya akan merincikan setiap poin dengan berlatar belakang untuk membuat sebuah jurnal.
1.      Planning (perencanaan)
Sebuah pekerjaan atau aktifitas yang akan dilakukan akan terasa aneh bila sebelumnya tanpa perencanaan, ya bisa dibilang niat. Perencanaan sangatlah penting, mengapa? Karena prerencanaan inilah yang membuat kita mempunyai sebuah tujuan yang harus dicapai dengan kerja keras, bayangkan bila hidup tanpa tujuan. Sia-sia. Namun saat membuat sebuah rencana lebih baik dipikirkan secara matang dan siap menanggung risiko gagal atau semacamnya, tanamkan dalam diri bahwa perencanaan ini dipikirkan dengan serius, memang tidak ada salahnya kan berencana? Untuk memudahkan kita dalam menjalankan sebuah rencana, kita harus berserah diri kepada Tuhan karena sehebat apapun rencana manusia, Tuhan lah yang menentukan.
Rencananya jurnal yang akan saya tulis nanti bertemakan sastra yang memengaruhi kepribadian dan sosial seseorang, kenapa saya memilih tema ini? Karena saya penasaran apakah ada seseorang yang terpengartuh kepribadiannya setelah membaca sebuah karya sastra? Dan apakah kasus sianida yang dimasukkan Jessica ke dalam kopi milik Mirna terinspirasi oleh buku bacaan Jessica? Baiklah ini mulai melenceng dari pembahasan.
 Saya akan menyelesaikan jurnal dengan tenggat hari 3 minggu. itupun belum termasuk membaca beberapa buku untuk memperluas dan memperdalam sebuah tulisan, jadi ada tambahan 1 minggu untuk memahami materi yang akan ditulis. Total nya adalah 1 bulan. Lumayan lama (sangat) untuk menulis sebuah jurnal.
Menulis sebuah rencana memang sangat lah mudah berbeda dengan saat melakukannya, bilamana waktu selesai yang direncanakan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan, mau bagaimana lagi?  Bila selesai sebelum harinya akan baik dan bila selesai melewati dari hari yang ditentukan? Bad, Karena harus mengaktifkan kembali mode SKM (Sistem Kebut Malam)

2.      Drafting (Konsep)
Konsep bagi saya adalah sebuah kuda-kuda dalam lari marathon, di mana si pelari akan menantukan kaki mana yang akan diangkat(?). Begitu juga dengan menulis, menulis sebuah karya perlu konsep yang matang. Saya biasanya membuat sebuah konsep dengan menggunakan kertas kosong dan menuliskan beberapa ide yang terlintas dan terpikirkan, dan menulisnya secepat mungkin. Saya tidak menghiraukan betapa jeleknya tulisan saya yang saya hiraukan adalah apa ide yang saya tulis. Biasanya ini berhasil pada saya, dan bagaimana kalau anda yang melakukan kebiasaan ini?
Sesungguhnya konsep sangatlah berguna dalam pembuat sebuah karya, karena bila kita telah sampai di tahap menulis yang sebenarnya, kita akan terbantu dengan catatan konsep yang telah kita buat sebelumnya, ini mengatasi kemungkinan lupa dengan ide, entah karena kepala terbentur knalpot bajaj atau menanduk perut orang seperti Zidane. Semoga kita tidak termasuk keduanya.

3.      Revising (Perbaikan)
Poin ini tidak kalah pentingnya dari kedua poin sebelumnya, revising atau perbaikan sangatlah bertanggung jawab dengan hasil  yang akan didapatkan. Perbaikan dalam tulisan dapat berupa kata yang belum baku, pengetikan kata atau sekarang bisa disebut dengan typo dan perbaikan kalimat yang dirasa bertele-tele.
Saya pernah membaca sebuah e-book yang berjudul “Rahasia Menulis Kreatif” yang ditulis oleh Raditya Dika. Di dalam buku tersebut, Radit mengungkapkan bahwa melakukan sejumlah revisi sangat lah wajib, ia membeberkan bagaimana ia menulis karya nya terdahulu dan merevisi nya dengan membacanya kembali menggunakan jeda beberapa minggu. Misalkan sebuah tulisan baru selesai pada hari ini, maka berilah jeda beberapa hari atau minggu untuk dibaca kembali, kenapa harus beberapa minggu? Karena otak dan mata perlu sebuah penyegaran, oh iya, Radit menyarankan kalau bisa, jeda minggu yang telah diambil atau jalani baiknya diisi dengan kegiatan rekreasi. Rencana nya saya akan meluangkan waktu sejenak sekitar beberapa hari (tergantung deadline) untuk mengistirahatkan otak dan mata.

4.      Working within the process

karya pertama pasti jelek!” – Pandji Pragiwaksono.
Itulah pernyataan yang saya dengar saat mengikuti kelas penulisan yang mendatangkan Pandji Pragiwaksono sebagai pembicaranya, dari pernyataan itu saya diajak kembali ke masa lalu, kembali melihat sebuah karya saya. Karya saya bukan berupa tulisan, melainkan sebuah foto yang sudah diedit sedemikian rupa sehingga saat saya melihatnya kembali membuat saya tersenyum kecil sambil bergumam “gila, ini jelek parah”.
            Semakin hari kita semakin berkembang baik dalam hal pengetahuan maupun pandangan terhadap sesuatu, time changes istilahnya. Jadi agak aneh bila menganggap seseorang tidak berubah, kecuali jika orang itu mengasingkan dirinya di sebuah kamar kosong untuk beberapa tahun, namun itupun juga pasti ada perubahan seperti halnya pada film remake yang berjudul Oldboy, di mana seorang pria yang sebelumnya terlihat lemah dan tidak terlalu peduli setelah diculik dan dikurung di sebuah ruangan untuk waktu yang cukup lama dan saat ia dibebaskan kepribadian nya berubah drastis menjadi seorang pendendam dan tentunya jago berkelahi.
            Banyak contoh yang mencerminkan working within the process, seperti halnya kehidupan,  kehidupan juga sebuah proses menuju kematian.
Dari ke-4 poin di atas dapat diolah sebuah cerita narasi yang ending nya belum terpikirkan oleh saya kecuali saya selesai melakukan semuanya, jadi inilah narasinya :

Dosen mata kuliah teori dan pembelajaran menulis memberikan kami tugas untukmembuat sebuah cerita narasi yang berlatar belakang menulis sebuah jurnal, sebelumnya saya belum mendalami apa itu jurnal? Dan apa bedanya dengan karta tulis yang lain. Jadi saya menyalakan laptop dan menyambungkannya ke internet dengan kuota yang lumayan untuk browsing, saya ketik di google ‘apa itu jurnal?’ lalu munculah tulisan yang berwarna biru memuat beberapa judul sebuah situs yang menyangkut pertanyaan saya, saya klik dan tampil lah halaman berlatar belakang Justin Bieber dan sebauh lagi tiba-tiba terdengar dari laptop saya, padahal saya tidak memutar lagu, oh ternyata blog nya memutar sebuah lagu yang berjudul love youself, saya tidak sengaja mendengarnya dan rasa penasaran saya akan jurnal tiba-tiba hilang diusir oleh sebuah lagu dan menghipnotis saya untuk mengunduhnya. Ya Allah, kuota.
Setelah terhipnotis untuk waktu yang lama, saya kembali sadar dan rasa penasaran saya kembali hadir, good bye Justin Bieber! Akhirnya saya menemukan apa yang saya cari, sebuah pengertian jurnal dan perbedaanya dengan karya tulis yang lain, saya membacanya dengan tekun hingga akhirnya saya merasa mantap akan pengetahuan saya akan jurnal. Alhamdulillah. Saya mulai menulis tugas cerita bernarasi yang ada sangkut-pautnya dengan jurnal, saya senang karena begitu lancar menulisnya namun saat beberapa paragraf sudah ditulis, lagu Justin Bieber kembali mendengung di telinga saya seperti Spongebob di episode lupa yang mana, di mana ia dirasuki oleh sebuah  lagu yang terngiang di otaknya. Jangan-jangan saya ini spongebob? Setelah saya cek lagi saya lega, karena saya adalah patrick.
Jurnal akan saya rampungkan dalam waktu satu bulan bila sangat malas, semoga saja tidak, karena untuk membuat sebuah jurnal diperlukan konsep yang matang.





You may also like

Tidak ada komentar:

Ridho Pahlawan. Diberdayakan oleh Blogger.